Garuda Media News

Media Informasi dan Edukasi Masyarakat

NEWS NUSANTARA POLITIK

Kritik Prabowo Hingga MBG, Kini Masa Lalu dan Pendidikan Ketua BEM UGM Dikuliti Netizen Karena Lulusan Paket C

Berbagi Informasi

Nama Tiyo Ardianto mendadak menjadi perbincangan luas di ruang publik nasional. Bukan karena sensasi, melainkan karena keberaniannya melontarkan kritik keras terhadap program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sorotan semakin tajam ketika Tiyo mengaku telah mengirimkan surat kepada UNICEF, menyuarakan kegelisahannya atas dampak kebijakan tersebut.

Tak lama berselang, ia juga mengungkap bahwa dirinya menjadi sasaran teror di media sosial bahkan menyasar ranah personal dan keluarganya.

Seiring riuh kritik itu, publik mulai menelusuri latar belakang sosok di balik suara lantang tersebut. Siapakah Tiyo Ardianto sebenarnya?

Bukan Mahasiswa Biasa: Pejuang Paket C Menuju UGM

Di balik posisinya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tiyo menyimpan kisah perjalanan hidup yang jauh dari privilese. Ia bukan produk jalur pendidikan konvensional yang mulus.

Tiyo secara terbuka mengungkap bahwa dirinya adalah pejuang ijazah Paket C sebuah fakta yang ia bagikan sendiri melalui akun Instagram pribadinya. Ia merupakan alumni Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah di Kudus.

“DARI ODM KE UGM,” tulis Tiyo singkat, namun sarat makna.

Dalam unggahannya, Tiyo menuturkan refleksi panjang tentang keluarganya yang berasal dari lapisan masyarakat kecil diukur dari pekerjaan, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi.

“Ayah dan ibu adalah bagian dari masyarakat kecil, setidaknya begitu; apabila diukur berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan seberapa banyak penghasilannya: tidak ada satu pun kebanggaan material yang keluarga kami punya.”

Kesadaran itu, menurut Tiyo, justru membentuk kewaspadaan orang tuanya terhadap masa depan sang anak.

Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM diteror usai kritik MBG. (Instagram/@tiyoardianto_)

Sekolah Bukan Takdir, Melainkan Lahan

Beberapa bulan sebelum lulus SMP, Tiyo mengaku sampai pada satu kesimpulan penting: bahwa ijazah dan sekolah formal tidak sepenuhnya menentukan arah hidup seseorang.

“Sekolah bagi saya, seperti sepetak tanah yang siap ditanami padi: beberapa di antaranya mungkin lebih subur dan lebih luas, tetapi tetap skill sebagai petani yang akan banyak menentukan.”

Tiga tahun setelah lulus SMP, Tiyo mengambil keputusan besar menempuh pendidikan alternatif yang kerap distigmakan masyarakat: sekolah alam di Omah Dongeng Marwah. Keputusan itu, ia akui, penuh risiko batin karena label “kejar Paket C” kerap dipandang sebelah mata.

“Keputusan itu ketok palu setelah melalui sidang panjang… sampai kami pasrah kepada Tuhan.”

Ketika ditanya soal sekolah dan ijazah, Tiyo mengaku selalu menjawab dengan jujur meski sadar akan respons skeptis yang sering muncul.

“Kertas yang dipakai sebagai ijazah di sekolah formal dan sekolah alam sama-sama dapat kapan saja dibakar dan dihancurkan.”

Kritik Pemerintah

Diketahui, Tiyo Ardianto menjadi perbincangan hangat setelah menyurati UNICEF soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bahkan ia juga turut mengkritiki pemerintahan Prabowo-Gibran dan menyebut “Rezim yang Bodoh dan Inkompeten”.

Imajinasi Reformasi Jilid II

Di tengah atmosfer politik yang menurutnya semakin bising namun kosong makna, kegelisahan Tiyo tumbuh menjadi imajinasi tentang reformasi jilid II. Baginya, seluruh prasyarat perubahan besar itu telah terpenuhi.

Dalam perbincangan bersama Pemimpin Redaksi Tribun Jateng Ibnu Taufik Juwariyanto di teras Omah Dongeng Marwah, Tiyo memetakan tiga krisis utama: kemerosotan demokrasi, krisis politik, dan ancaman krisis ekonomi.

Ia menilai krisis politik kini hadir dalam bentuk yang lebih sunyi namun berbahaya apatisme publik.

“Lihat saja, barusan terjadi ketidakstabilan eksekutif antara Purbaya dengan Trenggono. Lihat, mereka masih dalam satu kabinet saja tidak bisa koordinasi,” ujar Tiyo.

Ancaman paling mencekam, menurut Tiyo, adalah krisis ekonomi. Ia menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait lonjakan utang negara.

Penjelasan pemerintah bahwa utang diperlukan agar Indonesia tak mengalami krisis seperti 1998 justru dibaca Tiyo sebagai sinyal bahaya.

Bagi Tiyo, jika negara harus terus berutang demi bertahan, maka krisis hanya sedang ditunda bukan dihindari.

MBG dan Kritik yang Tak Surut

Semua kegelisahan itu bermuara pada kritiknya terhadap program Makan Bergizi Gratis, yang ia plesetkan menjadi “Maling Berkedok Gizi.”

Menurutnya, program tersebut membebani keuangan negara yang bersumber dari pajak rakyat dan berdampak pada pemangkasan anggaran pendidikan.

MBG, bagi Tiyo, bukan sekadar kebijakan melainkan simbol salah arah prioritas negara.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *