Sat. Apr 13th, 2024
Berbagi Informasi

Jakarta  – Tahun ini dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day / WSD) 2022, Bayer mendukung IAPB dalam kampanye #LoveYourEyes untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pentingnya kesehatan organ penglihatan serta penyakit yang dapat menyebabkan kebutaan dan gangguan penglihatan, salah satunya Diabetik Makular Edema (DME). (11/10/2022).

Jika DME terdiagnosa secara dini dan segera mendapat pengobatan yang tepat, hal ini memungkinkan kondisi “kehilangan penglihatan” pada pasien dapat diminimalisasi dan berpotensi untuk dipulihkan, sehingga mereka bisa kembali beraktifitas dengan perbaikan penglihatan sampai mendekati normal.

Pengobatan DME yang tidak tepat, dapat menyebabkan hilangnya 2 baris dari penglihatannya / perburukan penglihatan dalam waktu 2 tahun pertama, sampai akhirnya bisa mengalami kebutaan. Pasien diabetes melitus, yang berisiko mengalami hal ini, dihimbau untuk selalu melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari DME. Pasien DME pun dihimbau untuk selalu melakukan kontrol terhadap komplikasi mata sehingga mencegah kebutaan.

Dalam sambutannya hari ini (11/10/2022), dr. Ari Djatikusumo, Sp.M(K), Ketua II Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat menyatakan, “Pasien Diabetes perlu melakukan tindakan pencegahan agar tidak mengalami komplikasi pada matanya, salah satunya yaitu DME. Bagi pasien DME sendiri harus paham bahwa DME merupakan salah satu penyakit mata yang perlu mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Oleh sebab itu, dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day/ WSD) 2022, seluruh masyarakat diingatkan akan pentingnya kesehatan mata, yang berdampak pada pendidikan, pekerjaan, kualitas hidup, hingga kemiskinan.”

“Saya mewakili seluruh dokter mata di Indonesia dalam PERDAMI, mengajak para pemangku kepentingan (stakeholders) untuk secara aktif mendukung akses kesehatan mata. Kami juga sangat mengapresiasi Bayer Indonesia yang berinisiatif untuk aktif melakukan edukasi bersama dengan kami untuk meningkatkan awareness terkait DME,” tutur dr. Ari.

DME memang masih menjadi penyakit yang menjadi beban masyarakat. Secara Global, diprediksi sekitar 93 juta orang terdampak diabetik retinopati dan sekitar 21 juta orang diantaranya menderita DME. Di Indonesia sendiri, diprediksi terdapat sekitar 28.6 juta penderita diabetes. Di antara pasien DM di Indonesia tersebut diprediksi sekitar 5.5% akan menderita DME6. Hal ini tentu menjelaskan perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya pasien DME, agar senantiasa memilih pengobatan yang tepat.

Dr. Dewi Muliatin Santoso, Head of Medical Dept. Pharmaceutical Division PT Bayer Indonesia menjelaskan, “Sejalan dengan visi Bayer: Health for All, Hunger for None, kami berkomitmen terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien. Dalam memperingati Hari Penglihatan Sedunia / World Sight Day (WSD) 2022, kami memandang perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terkait risiko kehilangan penglihatan pada pasien DME. Selain itu kami senantiasa berupaya memberikan akses ke produk dan layanan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Salah satu bentuk komitmen Bayer diwujudkan dengan cara turut mendukung dikembangkannya aplikasi Teman Diabetes untuk memudahkan akses masyarakat melakukan cek kesehatan mata secara mandiri (self eye check). Selain itu, Bayer juga turut melakukan edukasi pada pengguna aplikasi tentang penyakit diabetik retinopati dan DME, serta pentingnya deteksi dan pengobatan dini untuk mencegah kebutaan.”

Dalam kesempatan yang sama, Dr. dr. Gitalisa Andayani, Sp.M(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan mengatakan, “Indonesia saat ini menempati peringkat 5 dunia dengan penderita diabetes terbanyak. Penderita diabetes tipe 1 dan 2 berisiko menderita DME dan kehilangan penglihatan8. 43% pasien diabetes ini memiliki risiko untuk menderita diabetik retinopati dan 26% diantaranya juga memiliki risiko kehilangan pengelihatan9. DME merupakan salah satu penyakit mata yang perlu dicegah dengan cara mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Oleh sebab itu, dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day / WSD) 2022, seluruh masyarakat diingatkan akan pentingnya kesehatan mata, yang bisa berdampak pada pendidikan, pekerjaan, kualitas hidup, hingga kemiskinan.”

“DME secara umum diakibatkan oleh keadaan hiperglikemia pada pembuluh darah retina yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama pada penderita retinopati diabetik. DME sendiri merupakan salah satu gangguan penglihatan berat yang kerap terjadi pada usia produktif (di bawah 50 tahun). Pada akhirnya, DME mampu menyebabkan hilangnya produktivitas hingga pendapatan. Secara sosial pun, DME akan mempengaruhi hubungan dengan keluarga, komunitas, bahkan dengan masyarakat secara luas, sehingga tak jarang penderitanya mengalami stress,” tambah Dr. Gita.

Gejala awal DME, jelasnya, biasanya diawali dengan penglihatan yang mulai kabur, lalu hilangnya warna kontras yang bisa dikenali mata, sampai akhirnya timbul titik buta. “Maka, perlu kita pahami apa saja faktor risikonya. Beberapa faktor risiko DME seperti menderita Diabetes Melitus (DM) dalam waktu yang sudah panjang, memiliki riwayat hipertensi dan hiperkolesterol, obesitas, serta tidak mampu mengontrol gula darah,” jelas Dr. Gita.

“Maka dari itu, sangat perlu melakukan skrining DME, apalagi mereka yang sudah memiliki riwayat Diabetes. Bagi pasien dengan DM tipe 1 direkomendasikan untuk melakukan skrining 3-5 tahun setelah terdiagnosis DM. Untuk DM tipe 2 perlu dilakukan skrining segera setelah terdiagnosis DM, lalu kemudian dianjurkan untuk melakukan skrining ulang setiap tahunnya8. “Kemudian diagnosis DME ditegakkan setelah ditemukan adanya penurunan tajam penglihatan, gambaran khas pada makula dengan pemeriksaan funduskopi dan adanya penebalan makula yang disertai dengan ditemukannya gambaran penebalan makula pada Optical Coherence Tomography (OCT),” tegasnya.

Dr. dr. Elvioza, Sp.M(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan menyatakan, perlu tatalaksana yang tepat untuk DME. “Penanganan terapi DME dapat difokuskan menjadi 2, yaitu kontrol faktor sistemik dan memberikan terapi okuler. Kontrol faktor sistemik bertujuan untuk mencegah retinopati dan progresivitas penyakit dengan cara mengontrol gula darah, tekanan darah dan kadar lemak darah. Sedangkan terapi okuler bertujuan untuk mencegah kehilangan penglihatan dan memperbaiki penglihatan dengan cara terapi anti-VEGF, terapi laser dan steroid,” tutur Dr. Elvioza.

Hanya saja, tambahnya, memang masih banyak tantangan dalam menangani DME selama ini. Beberapa di antaranya terkait dengan ketiadaan dorongan untuk melakukan skrining secara dini, biaya terapi yang cukup tinggi, kurang optimalnya komunikasi dari penyedia layanan kesehatan dan pasien tentang biaya dan manfaat obat, serta yang juga masih menjadi tantangan besar adalah kerap kali pasien tidak patuh untuk melakukan kontrol dan pengobatan.

Dalam hal pengobatan awal yang optimal, tambahnya, penelitian VIVID dan VISTA memberikan bukti bahwa pengobatan yang intensif untuk DME memberikan manfaat yang lebih baik. Penelitian VIVID dan VISTA menggunakan injeksi dibandingkan dengan pengobatan dengan laser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi aflibercept dengan 5 dosis awal memberikan manfaat yang lebih baik dibandingkan dengan laser.

“Selain itu, beberapa bukti dari kondisi nyata sehari-hari juga memberikan kesimpulan yang sama dimana pasien dengan pengobatan dini dan intensif, memberikan perbaikan penglihatan yang lebih baik dibandingkan pengobatan dengan aflibercept yang tidak intensif. Maka dari itu, diharapkan ke depannya masyarakat, khususnya pasien DME, lebih memiliki kesadaran untuk patuh melakukan pengobatan DME,” tutupnya.

 

*Sumber : media-infokes.com

[contact-form][contact-field label=”Name” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Email” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Website” type=”url” /][contact-field label=”Message” type=”textarea” /][/contact-form]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Informasi dan Berita Terbaru - Garuda Media News

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Garuda Media News will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.