Fri. Feb 23rd, 2024
Berbagi Informasi

Emisi yang dihasilan 1 persen orang-orang terkaya atau konglomerat di dunia setara dengan emisi dari dua pertiga penduduk termiskin di dunia, atau sekitar 5 miliar orang. Analisis tersebut disampaikan oleh organisasi nirlaba Oxfam International yang diterbitkan pada Senin (20/11/2023).

Salah satu penulis laporan tersebut, Max Lawson, mengatakan kepada AFP, meski memerangi krisis iklim perlu dilakukan bersama, tidak semua orang memiliki tanggung jawab yang sama.

Oleh karena itu, kebijakan pemerintah juga harus disesuaikan. “Semakin kaya Anda, semakin mudah untuk mengurangi emisi pribadi dan investasi Anda,” kata Lawson.

Lawson menekankan agar orang-orang kaya membatasi keinginan mereka untuk mengeluarkan emisi lebih banyak. Laporan dari Oxfam International tersebut didasarkan pada penelitian yang dikumpulkan oleh Stockholm Environment Institute (SEI) dan meneliti emisi konsumsi yang terkait dengan kelompok pendapatan berbeda hingga tahun 2019.

Laporan ini diterbitkan ketika para pemimpin dunia bersiap untuk bertemu dalam pembicaraan iklim pada KTT Iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), akhir bulan ini. Temuan utama dalam studi Oxfam International antara lain adalah satu persen orang terkaya di dunia, yakni 77 juta orang, bertanggung jawab atas 16 persen emisi global yang terkait dengan konsumsi mereka.

Jumlah tersebut setara dengan 66 persen populasi terbawah berdasarkan pendapatan, atau 5,11 miliar orang. Ambang batas pendapatan untuk menjadi salah satu dari satu persen penduduk teratas global disesuaikan berdasarkan negara dengan menggunakan paritas daya beli. Misalnya di Amerika Serikat (AS), ambang batasnya adalah 140.000 dollar AS.

Contoh lain di Kenya, ambang batasnya sekitar 40.000 dollar AS. Analisis yang dilakukan dalam negeri di beberapa negara juga memberikan gambaran yang sangat jelas. Misalnya, di Perancis, satu persen penduduk terkaya mengeluarkan karbon dalam satu tahun sebanyak 50 persen penduduk termiskin dalam 10 tahun. Tidak termasuk karbon yang terkait dengan investasinya, Bernard Arnault, miliarder pendiri Louis Vuitton dan orang terkaya di Perancis, memiliki jejak kaki 1.270 kali lebih besar dibandingkan rata-rata warga “Negeri Anggur”.

Pesan utamanya, menurut Lawson, adalah tindakan kebijakan harus progresif. Orang-orang yang menghasilkan emisi lebih besar dibandingkan yang lainnya harus menjadi sasaran kebijakan iklim yang lebih progresif. Kebijakan tersebut misalnya, pajak atas penerbangan lebih dari sepuluh kali setahun atau pajak atas investasi non-hijau yang jauh lebih tinggi dibandingkan pajak atas investasi ramah lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Informasi dan Berita Terbaru - Garuda Media News

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Garuda Media News will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.