Hari Kedua Milad ke-10 PCIM Turki : Soroti Peran Diaspora dan Capaian Kinerja Satu Dekade
ANKARA – Rangkaian perayaan Milad ke-10 sekaligus Musyawarah Cabang Istimewa (Musycabis) ke-5 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Turki berlanjut pada hari kedua, Jumat (14/2). Bertempat di Araştırma ve Kültür Vakfı, Ankara, agenda hari kedua ini berfokus pada evaluasi kinerja organisasi serta arahan strategis dari para tokoh.
Acara diawali dengan kilas balik sejarah berdirinya PCIM Turki pada 12 Februari 2016 yang disampaikan oleh Ketua Pelaksana, Agwa Daffa Addinia. Momen penting ini turut dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Bapak Achmad Rizal Purnama, yang memberikan sambutan sekaligus dukungan langsung kepada para kader.
Salah satu sesi yang paling menjadi sorotan di pagi hari adalah amanat dari Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Dr. Imam Addaruqutni, M.Ag., yang hadir secara daring. Beliau menitipkan banyak pesan berharga bagi para kader muda di perantauan.
Dr. Imam memahami bahwa sebagai aktivis muda, para kader pasti memiliki ketertarikan pada isu-isu global. Oleh karena itu, beliau mengingatkan bahwa meskipun Muhammadiyah lahir sebagai organisasi nasional di Indonesia, gerakannya kini harus berwawasan internasional. Kader diaspora di Turki memiliki peran yang sangat penting dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman, sekaligus menjadi jembatan penghubung antara kedua negara.
“Muhammadiyah itu besar, tapi tidak pernah mem-flexing-kan atau menyombongkan kebesarannya,” ujar Dr. Imam. Beliau menekankan bahwa Muhammadiyah tidak pernah sibuk mengklaim diri sebagai lembaga raksasa, melainkan fokus untuk hadir di acara-acara penting dan memberikan dampak nyata di masyarakat. Salah satu contoh sederhananya adalah inisiatif rumah sakit keliling untuk menjangkau daerah-daerah terpencil.
Karena itu, beliau meminta diaspora Muhammadiyah di Turki untuk fokus menyerap aspirasi dan menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi lingkungan sekitar. Para kader juga didorong untuk terus mengasah kemampuan berwacana di ruang publik.
Terkait tantangan dakwah di lapangan, Dr. Imam berpesan agar kader tidak mudah terdistraksi. “Kita kadang dicap Wahabi atau mendapat narasi negatif lainnya, tapi ngapain sih memikirkan hal itu? Tidak usah dibesar-besarkan, yang penting substansi dakwah kita tetap terjaga,” tegasnya.
Rangkaian sesi pembukaan yang sarat makna ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama pada pukul 11.30.
Memasuki agenda inti pada siang harinya, Sidang Pleno II menjadi ajang evaluasi melalui Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dari para pengurus. Terdapat beberapa capaian inovatif yang disorot, seperti kolaborasi penerjemahan dokumen-dokumen Muhammadiyah ke dalam bahasa Turki, serta perilisan lagu mars Sang Surya versi bahasa Turki sebagai bentuk dakwah kultural.
Berbagai lembaga dan majelis di bawah naungan PCIM Turki juga menunjukkan hasil kerja yang sangat memuaskan. Beberapa di antaranya adalah Lemlitbang yang sukses menerbitkan 3 buku, laporan keuangan LazisMU Turki yang telah resmi diaudit oleh LazisMU Pusat, hingga Tapak Suci yang berhasil menggelar ujian kenaikan tingkat di dua kota, yakni Istanbul dan Kütahya. Secara keseluruhan, mayoritas program kerja dari berbagai majelis dilaporkan telah terlaksana.
Rangkaian hari kedua ditutup dengan sidang Komisi B pada malam harinya yang khusus membahas pedoman organisasi. Sidang ini menyepakati beberapa pembaruan penting, di antaranya penyesuaian tempat kedudukan PCIM Turki yang kini secara resmi mencakup “Negara Turki” secara keseluruhan, serta penyederhanaan penyebutan majelis dan lembaga otonom menjadi Unsur Pembantu Pimpinan (UPP).
Penulis: Muhammad Dihya Rafi Akhtar
Editor: Muhammad Dihya Rafi Akhtar
















