Sat. Apr 13th, 2024
Berbagi Informasi

Sedikitnya 29 warga Palestina dilaporkan tewas akibat dua serangan militer Israel di wilayah Jalur Gaza. Otoritas kesehatan Gaza menyebut puluhan warga Palestina itu sedang antre menunggu bantuan kemanusiaan saat tiba-tiba digempur militer Israel pada Kamis (14/3) waktu setempat.

Namun, militer Israel, dalam pernyataannya, membantah telah menyerang pusat penyaluran bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza. Demikian seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Jumat (15/3/2024),

Laporan otoritas kesehatan Gaza menyebut bahwa dalam serangan pertama, sedikitnya delapan orang tewas akibat serangan udara terhadap pusat distribusi bantuan di area kamp Al-Nuseirat, Jalur Gaza bagian tengah.

Dalam serangan kedua, masih menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 21 orang tewas dan lebih dari 150 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan tembakan pasukan Israel terhadap kerumunan yang menunggu kedatangan truk pengangkut bantuan kemanusiaan di area bundaran Gaza bagian utara.

Menanggapi laporan tersebut, militer Israel membantah keras bahwa pasukannya telah menyerang pusat-pusat penyaluran bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza. Militer Israel menggambarkan laporan dan klaim itu sebagai “salah”.

“Laporan pers soal pasukan Israel menyerang puluhan warga Gaza di titik distribusi bantuan adalah sebuah kesalahan,” tegas militer Israel dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP.

“Ketika IDF (Angkatan Bersenjata Israel) memeriksa insiden tersebut dengan ketelitian yang layak, kami mendesak media untuk melakukan hal yang sama dan hanya mengandalkan informasi yang kredibel,” tegas pernyataan itu.

Ketika para peneliti mengamati kelompok usia secara terpisah dan bukannya menggabungkan semuanya, mereka menemukan bahwa provinsi KwaZulu-Natal dan Limpopo di Afrika Selatan memiliki angka kematian berlebih tertinggi dan penurunan harapan hidup terbesar di dunia. Provinsi-provinsi ini memiliki populasi yang relatif muda dan datanya dapat menyimpang dari rata-rata harapan hidup secara keseluruhan.

Menurut perkiraan peneli, pandemi ini menyebabkan angka kematian global melonjak pada semua orang yang berusia di atas 15 tahun, dengan peningkatan angka kematian sebesar 22 persen pada laki-laki dan peningkatan sebesar 17 persen pada perempuan antara tahun 2019 dan 2021.

Sebaliknya, angka kematian anak , menurun sebesar 7 persen pada periode yang sama, dengan penurunan setengah juta kematian pada anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2019.

“Studi kami menunjukkan bahwa, bahkan setelah memperhitungkan banyaknya korban jiwa yang dialami dunia akibat pandemi ini, kami telah mencapai kemajuan luar biasa selama 72 tahun sejak tahun 1950, dengan angka kematian anak yang terus menurun secara global,” ujar Hmwe Kyu , seorang profesor ilmu metrik kesehatan di Universitas Washington.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Informasi dan Berita Terbaru - Garuda Media News

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Garuda Media News will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.