Tue. Dec 5th, 2023
Berbagi Informasi

Kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh tersangka Slamet Tohari (ST) atau Mbah Slamet, hingga kini masih terus berlanjut.

Berawal dari aduan kehilangan, lalu ditemukan mayat yang ternyata korban pembunuhan olehnya. Hingga saat ini jumlah korban masih terus bertambah.

Hari ini, hari ke-3 sejak terungkapnya kasus series killer Mbah Slamet. Suara.com menuju lokasi Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (4/4/2023).

Desa Balun mendadak terkenal hingga ramai dipadati warga. Bagaimana tidak. Desa di pegunungan utara Banjarnegara ini menjadi tempat kekejaman Mbah Slamet. Desa Balun juga merupakan tempat dimana rumah Mbah Slamet berada.

Tak ada yang menyangka jika desa dengan pemandangan alam yang indah nan subur ini menjadi tampak kelam. Warga desa Balun yang dikenal ramah pun tersentak dengan kabar yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.

Sebanyak sembilan jenazah korban dimakamkan massal di pemakaman Desa Balun. Petugas telah menyiapkan tiga liang kubur untuk enam jenazah laki-laki dan tiga jenazah perempuan.

Sembilan Jenazah tersebut dimakamkan secara massal sebab sudah tidak utuh dan tidak teridentifikassi. Diantara kerumunan, tampak beberapa orang yang merupakan keluarga korban.

Salah satunya adalah Ahmad Hidayat (33) warga asal Palembang. Ia meyakini jika kakaknya menjadi salah satu korban yang dikubur hari ini.

“Mulyadi, kakak saya,” ungkapnya di pemakaman.

Ia bisa sampai di Desa Balun saat ini berawal ketika dirinya mencari kakaknya yang hilang. Menurut keterangan Dayat, Kakaknya pamit ke Banjarnegara untuk menemui mbah Slamet.

“Pamit dan sampai disini dia mengirim shareloc, makanya saya bisa sampai sini,” katanya.

Ia pun sempat menemui dan menanyakan langsung tentang keberadaan kakaknya kepada ST. Namun ST selalu menghindar dan sempat menjawab jika kakaknya sudah pulang.

“Sudah ketemu Pak Tohari, cuman Pak Tohari kabu-kabur terus,” katanya.

Tak percaya dengan ST, Hidayat melaporkan kepada Polisi dan membawa pengacara. Namun, kakanya tak kunjung ditemukan.

“Jadi Oktober tahun 2021 itu hilang terus bulan November saya membuat laporan. Ketemu di Polsek bawa pengacara tapi dia mengelak terus,” jelasnya.

Sebelum dipamiti, ia dan keluarga sudah melarang kakaknya untuk pergi menemui mbah Slamet. Namun, saat itu pikiran kakaknya sedang kalut.

“Sudah melarang dan sudah bilang ini tidak beres. Tapi dia tetep pergi. Waktu itu dia terlilit hutang,” ungkapnya.

Banyak warga yang tak menyangka jika Mbah Slamet menjadi pelaku keji pembunuhan berantai yang sampai saat ini korbannya sudah ditemukan 12 orang.

Salah satu tetangga Slamet yang memiliki warung, Kularsih bercerita, banyak tamu yang datang menanyakan rumah mbah Slamet. Namun, dia tak sempat menanyakan keperluan tamu jauh yang mampir di warungnya.

“Sering ada yang menanyakan rumah pak Slamet. Tapi tidak bilang keperluannya apa. banyak tamu dari luar kota. hanya menanyakan rumah dimana tidak menanyakan yang lain-lain, sering pada mampir di warung buat makan minum,” ungkap dia, Selasa (4/4/2023).

Menurutnya, sosok Slamet-pun tidak terkenal di desanya. Bahkan, hanya sekadar beli sesuatu di warung miliknya pun tidak pernah.

“Disini tidak begitu terkenal, jadi saya kaget dan tidak menyangka. Malahan tidak pernah beli apa apa disini,” kata dia.

Sontak, kabar kasus pembunuhan yang dilakukan Slamet membuat gempar warga. Slamet selama ini dikenal baik oleh warga seperti orang-orang pada umumnya.

“Dikenalnya baik sama seperti yang lain. Jadi ada kabar pembunuhan seperti ini banyak yang kaget,”ungkap Sambudiono, warga Desa Balun.

Ia mengaku tak mengetahui aktivitas keseharian Slamet. Hanya saja kerap pergi-pergi. “Tidak tahu kesehariannya tapi sering pergi,” kata dia.

Sebagian warga juga mengetahui jika Slamet adalah ‘orang pintar’. “Sudah lama, sejak 10 tahun dikenal orang pintar. termasuk bisa menggandakan uang. Kurang paham, tapi kalau kerjaannya suka pergi-pergi,” jelasnnya.

Kepala Desa Balun, Mahbudiono juga mengatakan jika Slamet jarang tampak dalam kegiatan masyarakat. Namun kerap mendapat tamu jauh yang datang ke rumahnya.

Tak hanya itu, beberapa kali tamu jauh itu mencari keluarganya yang pamit ke rumah Slamet. Diantaranya ada dari Palembang dan Pekalongan.

“Dia jarang kelihatan dan usahanya tidak jelas apa. Ada orang dari pekalongan menanyakan rumah mbah Slamet, katanya bisa menggandakan uang. Nah saya tahu dia bisa menggandakan uang dari orang Pekalongan itu,. ada orang Palembang yang menanyakan keluarganya. Kemudian saya menyarankan untuk pergi ke kantor polisi,” ungkapnya.

Bangunan rumah besar dengan dua pilar besar menyangga lantai 2 berdiri kokoh di gang kecil. Di rumah yang cukup mewah itu didapati istri Mbah Slamet bernama Sanem.

Saat ditemui, Sanem tampak seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Sanem mengaku tak tahu menahu dengan penangkapan suaminya. Ia juga mengatakan jika dirinya tak tahu pekerjaan suaminya.

“Pekerjaannya tidak jelas. Setahu saya pekerjaanya di jalan. Aktivitasnya apa saya tidak tahu, bahkan sudah satu tahun ini malah saya ditelantarkan sama suami,” ungkap Sanem.

Selama ini, banyak tamu yang merupakan klien ST berdatangan ke rumahnya. Namun, ia hanya menyuguhkan minum dan tidak pernah mengobrol.

“Kalau ada tamu saya hanya membuatkan minum tidak ikut ngobrol,” pungkasnya.

Usai proses pemakaman sembilan korban, tersangka ST yang kini sudah diamankan Polres Banjarnegara kembali dihadirkan di TKP. Saat di TKP, ia diminta menceritakan bagaimana dia menghabisi korbannya seorang diri.

Menurut pengakuannya, korban dari rumah diajak TKP kebun dalam rangka ritual untuk menggandakan uang. Sehingga korban setuju. Saat sampai di kebun, korban diajak ngobrol lalu dikasih minum yang sudah berisi racun potasium dan obat penenang.

Saat menuju kebun, ST belum membuat lubang untuk mengubur korban. Slamet menunggu sampai korban meninggal barulah ia menggali lubang.

“Pada saat kesini itu lubang belum ada. Ketika sudah mati baru menggali lubang,” kata Hendri.

ST menambahkan, dirinnya mengajak korban menuju TKP sekitar jam 16.00 WIB sore dan menguburnya pada jam 19.30 WIB malam.

“Setengah 8 malam (membunuh). Jadi berangkat dari rumah jam 4 sore sampai sini masih terang jadi nggak curiga. Ritualnya cuma ngobrol terus udah agak malam disuruh minum,” tambah ST.

Ia mengatakan, usai meminum racun, korban tidak bisa meminta tolong. Hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit, nyawa korban akan hilang usai menenggak potasium.

“Orangnya tidak sempat bilang apa apa (berteriak minta tolong). Intinya habis minum langsung muntah sedikit terus sekitar 5 menit dia sudah tidak terasa apa-apa,” sambungnya.

Ditempat yang sama, Kapolres Banjarnegara, AKBP Hendri Yulianto mengatakan, petugas kembali menemukan dua jenazah suami-istri. Sehingga, saat ini jumlah korban sudah tercatat 12 orang.

“Ini sudah hari ke 3. Hari pertama ketemu satu, hari kedua ketemu 9, lalu hari ini ketemu 2,” kata dia.

Saat penggalian, ditemukan dua sandal model laki-laki dan perempuan. ST pun menyebut kedua korban tersebut adalah suami istri namun ia hanya mengenali suaminya.

“Katanya bernama Irsyad terus satunya lagi katanya istrinya, tapi dia (ST) belum mengenal. Jadi seluruhnya ada 12 korban,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya masih melakukan autopsi terhadap 2 jenazah yang baru ditemukan. “Untuk hasilnya masih menunggu, nanti akan diinformasikan lebih lanjut,” tandasnya.

Ia juga belum bisa memastikan jumlah total korban pembunuhan ini. Sebab, masih ada kemungkinan penambahan korban lainnya.

“Tidak menutup kemungkinan akan ada temuan lagi. Nanti tunggu ada informasi selanjutnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Informasi dan Berita Terbaru - Garuda Media News

You have successfully subscribed to the newsletter

There was an error while trying to send your request. Please try again.

Garuda Media News will use the information you provide on this form to be in touch with you and to provide updates and marketing.